Sabtu, 19 Oktober 2013

Pendidikan Agama Kristen Sebagai Tugas Panggilan Gereja

Pendidikan Agama Kristen Sebagai Tugas Panggilan Gereja

Pengajaran memang tidak dititikberatkan pada hanya salah satu tugas panggilan gereja (bersekutu, bersaksi dan melayani), sebab berbicara mengenai pengajaran sebenarnya mencakup ketiga tugas panggilan gereja tersebut.  Setiap tugas panggilan gereja sesungguhnya haruslah mengandung unsur pengajaran. Setiap persekutuan, pelayanan serta kesaksian yang dilakukan, mengajarkan kepada setiap anggotanya bagaimana kehidupan sesungguhnya dari gereja.   Dengan kata lain, pengajaran ada dalam persekutuan, pelayanan serta kesaksian gereja Tuhan.
Gereja ditugaskan untuk mengajarkan kepada semua bangsa segala sesuatu yang telah Yesus perintahkan (Mat. 28:18-20). Pengajaran yang dilakukan gereja haruslah menyebabkan pengetahuan, pengertian serta perubahan untuk mencapai kedewasaan penuh dalam Kristus (Ef. 4:11-16). Kristus adalah Guru Agung, Dia adalah teladan yang sempurna dalam segala bentuk pelayanan termasuk di dalamnya mengajar, sebab Dia sendiri melakukan apa yang Ia ajarkan dan apa yang Ia ajarkan, itu pula yang Ia lakukan. Penulis Didakhè mengatakan dengan tajam, bahwa setiap nabi yang tidak melakukan kebenaran yang ia ajarkan adalah nabi palsu (11:10).
Gereja sebagai persekutuan yang organis, fungsinya mencakup penyusunan pengajaran (didache) yang berasal dari pemberitaan (kerygma) yang dasariah. Ini merupakan bentuk kesadaran gereja atas pengutusannya. Lebih lanjut Cully menjelaskan bahwa makna pemberitaan itu menyangkut keseluruhan perbuatan-perbuatan Allah yang besar dalam melawat dan menebus umatNya. Pemberitaan ini menghasilkan pengajaran, dengan kata lain pengajaran bersumber dari pemberitaan, sehingga pengajaran tidak bisa dipisahkan dari kerygma. Apabila hal itu terjadi maka pengajaran itu cenderung menyimpang.[1] Pengajaran dibutuhkan untuk memelihara hasil-hasil penginjilan sehingga semakin hari semakin menuju pada kedewasaan rohani.[2]
Bagaimana gereja mengajar menurut penjelasan Cully, dapat di uraikan sebagai berikut:
1)    Gereja mengajar melalui ibadah bersama;
2)    Gereja mengajar melalui perayaan kalender hari-hari raya gerejawi;
3)    Gereja mengajar melalui hubungan-hubungan yang ada antara orang dewasa dan anak-anak di gereja;
4)    Gereja mengajar melalui sekolah gereja;
5)    Gereja mengajar melalui partisipasi anak-anak dan orang dewasa dalam keseluruhan kehidupan umat Kristen;
6)    Gereja mengajar melalui partisipasi keluarga-keluarga dalam persekutuan yang beribadah.
Semuanya itu menunjukkan pengajaran terjadi dalam persekutuan dan menuntut adanya keterlibatan aktif dari seluruh anggota gereja tanpa terkecuali, dari anak-anak sampai orang dewasa. Kegiatan mengajar oleh gereja tidak boleh berhenti, melainkan harus terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi (Ul. 6:4-9). Daniel Nuhamara secara eksplisit mengatakan bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan.[3] Sejalan dengan itu, Horace Bushnell sebagaimana yang dicatat Boehlke dalam bukunya, menyebutkan orang tua, jemaat sendiri, pendeta dan anak-anak sebagai pengajar sedangkan pelajarnya yaitu kaum muda, orang tua dan warga jemaat.
Berkaitan dengan tugas ini, maka kita mengenal Pendidikan Agama Kristen (PAK). Istilah ini berasal dari bahasa Inggris Christian Religious Education, yang oleh beberapa ahli didefinisikan sebagai berikut:
a.    Hieronimus (345-420)
PAK adalah pendidikan yang bertujuan untuk mendidik “jiwa” sehingga menjadi bait Tuhan. “Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat. 5:48).[4]
b.    Augustinus (345-430)
PAK adalah pendidikan yang bertujuan menghantar para pelajarnya untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, terbuka dengan Firman Tuhan dan memperoleh pengetahuan akan perbuatan-perbuatan Allah melalui Alkitab dan bacaan lain. Semuanya itu untuk memperoleh hikmat yang dari Allah sendiri.[5]
c.    Martin Luther (1483-1548)
PAK adalah pendidikan yang melibatkan semua warga jemaat khususnya kaum muda, agar bisa belajar secara teratur dan tertib sehingga sadar akan dosa dan kemerdekaan yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus. Disamping itu memperlengkapi mereka dengan berbagai sumber iman sehingga mampu mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam pelayanan terhadap masyarakat, negara dan gereja.[6]
d.    Yohanes Calvin (1509-1664)
PAK adalah pendidikan gereja yang bertujuan untuk mendewasakan umat Allah. Berkaitan dengan hal ini, Calvin mengutip tulisan Paulus dalam Efesus 4: 10 dyb.[7]
e.    E.G. Homrighausen (1955)
PAK adalah pendidikan yang melaluinya “segala pelajar, tua dan  muda memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri dan oleh dan dalam Dia mereka terhisap pula pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan Nama-Nya di segala waktu dan tempat”.[8]
f.     Clement Suleeman/ Lee Sian Hui (1980)
PAK adalah pelayanan gerejawi dalam “mendidik anggota dan calon anggotanya untuk hidup dalam kehidupan Kristen”.[9]
Dari pengertian beberapa ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pusat Pendidikan Agama Kristen adalah Allah sendiri dengan kedewasaan iman jemaat-Nya sebagai tujuannya. Para pelajar PAK sendiri, pada dasarnya para ahli di atas setuju bahwa semua warga jemaat adalah pelajar, kendatipun Marthin Luther menekankan kekhususan dari kaum muda. Sejalan dengan tugas ini, maka dapatlah dimengerti bahwa di mana gereja ada, disitu pula gereja melaksanakan tugas mengajar ini. Sehingga bisa dikatakan PAK ada dimana gereja ada yakni di rumah/keluarga, di sekolah, juga di gereja yang dalam pengertian gereja lokal.
Dalam penerapannya, setiap warga gereja berapapun usianya berhak mendapatkan pendidikan agama Kristen. Pertumbuhan dan perkembangan manusia baik fisik, psikis, sosial, emosional dan kerohanian, turut memengaruhi daya tangkap, cara berpikir, tingkah laku dan kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri, termasuk di dalamnya kebutuhan akan pendidikan. Bagi anak-anak dan orang muda, pendidikan yang mereka terima yaitu untuk menyiapkan mereka menuju kehidupan dewasa, sedangkan pendidikan yang diterima orang dewasa yaitu untuk menolong mereka mengembangkan potensi dalam memecahkan masalah-masalah pribadi dan sosial.[10]
Perbedaan kemampuan dan kebutuhan dari tingkat usia inilah yang menuntut adanya perhatian khusus oleh gereja. Sehingga dalam pelaksanaannya, kita mengenal berbagai kategori dalam PAK yakni PAK untuk anak-anak (usia 0-11 tahun), PAK untuk Remaja (usia 12-17 tahun), dan PAK untuk orang dewasa (usia 18 tahun ke atas). Bahkan dalam PAK untuk orang dewasa masih juga dibagi dalam 3 kelompok yakni kelompok dewasa muda (usia 18-34 tahun), dewasa menengah (usia 35-60 tahun) dan dewasa lanjut usia (usia 60 tahun ke atas). Di samping PAK untuk orang dewasa, ada juga PAK dalam keluarga. Setiap kategori usia membutuhkan pendekatan pendidikan berdasarkan ciri khas dari perkembangannya.


[1] Iris Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, terjemahan P. Siahaan dan Stephen Suleeman, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), h. 30-31.
[2] Ernest Petty, Berkhotbah & Mengajar, (Malang: Gandum Mas), h. 158.
[3] Daniel Nuhamara, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Dewasa, (Bandung: Jurnal Info Media, 2008), h. 12.
[4] Robert Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Prakten Pendidikan Agama Kristen dari Plato Sampai Ig. Loyola, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h. 111.
[5] Ibid., h. 128.
[6] Ibid., h. 342.
[7] Yohanes Calvin, Institutio Pengajaran Agama Kristen, diseleksi oleh Th. Van den End, terjemahan Ny. Winarsih da J.S. Aritonang, Arifin dan Th. Van den End, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h. 230.
[8] E.G. Homrighausen & I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), h. 26.
[9] Clement Suleeman di dalam Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan – Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), h. 6-7.
[10] Daniel Nuhamara, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Dewasa, h. 13.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar