Laman

Kamis, 01 Maret 2012

KELUARGA YANG TIDAK MEMILKI ANAK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latarbelakang
Keluarga adalah istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Bahkan kehidupan kita tidak pernah lepas dari yang namanya keluarga, tentu dalam artian yang luas. Keluarga merupakan lembaga masyarakat yang paling kecil tetapi paling penting. Di dalamnya terdapat anak-anak yang dipersiapkan untuk bertumbuh. Keluarga pertama yang diciptakan Allah adalah keluarga Adam dan Hawa (Kej. 1:27-28). Kemudian keluarga Nuh, Abraham, keluarga Ishak dan Yakub menurunkan bangsa Israel.
Layaknya kehidupan yang tidak pernah “datar”, begitu pula dengan keluarga. Masalah demi masalah akan trus datang baik dari dalam maupun dari luar keluarga itu sendiri. Sebagai orang Kristen, kita mengamini bahwa rancangan Tuhan itu selalu mendatangkan damai sejahtera. Sehingga ketika Tuhan mengijinkan sebuah keluarga menghadapi suatu masalah ataupun pergumulan, itu semua bukan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka. Melainkan untuk pengujian iman mereka agar lebih dewasa lagi.
Ada begitu banyak masalah yang dihadapi oleh keluarga, mulai dari pernikahan, mendapatkan anak, masalah pendidikan, masalah-masalah keluarga lainnya yang memang akan timbul dengan sendirinya dan selanjutnya mempersiapkan diri untuk merelakan anak membentuk suatu rumah tangga yang baru. Semua itu menjadi  semacam siklus masalah dalam keluarga.
Dalam pernikahan, setiap manusia normal pasti menginginkan kehadiran anak atau anak-anak di tengah-tengah keluarga. Bahkan bukan hanya orang yang sudah menikah yang memiliki keinginan untuk mempunyai anak, seorang pemuda pun bisa saja memiliki keingingan seperti ini meskipun ia belum menikah. Kehadiran anak sebagai anugerah Tuhan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Suami dan isteri akan merasa semakin lengkap dengan hadirnya anak. Lalu bagaimana dengan keluarga yang belum juga dikaruniai anak? Pastilah keluarga seperti ini akan mengalami tekanan baik dari segi sosial maupun psikis.
Makalah yang berjudul “KELUARGA YANG TIDAK MEMILIKI ANAK” ini akan menjawab pertanyaan di atas dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya.
B.     Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas akhir semester dalam mata kuliah PAK Dewasa/Keluarga, yaitu untuk mengetahui:
1.      Hakekat keluarga
2.      Masalah-masalah dalam keluarga
3.      Kajian sosiologi, psikologi dan teologi terhadap masalah keluarga.

C.    Rumusan Masalah
1.      Apa hakekat keluarga
2.      Masalah-masalah apa saja yang akan muncul dalam kehidupan keluarga
3.      Bagaimana ilmu sosiologi, psikologi dan teologi mengambil bagian dalam permasalahan keluarga.

D.    Batasan Masalah
Sesuai dengan judul, makalah ini hanya terbatas pada masalah keluarga yang tidak memiliki anak.

E.     Manfaat
Adapun manfaat makalah ini, yaitu:
1.      Manfaat Akademis/Teoritis
Menambah bahan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen khususnya bagi keluarga dan permasalahannya.
2.      Manfaat Praktis
Membantu kita dalam pemahaman yang benar tentang keluarga agar terhindar dari hal-hal yang bersifat negative bila menemui permasalahan yang serupa, juga bisa membantu orang di sekitar kita yang mungkin mengalami permasalahan ini.
BAB II
KAJIAN TEORI TENTANG KELUARGA
A.    Pengertian Keluarga
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Dr. Kenneth Chafin dalam bukunya Is There a Family in the House? Memberikan gembaran tentang maksud keluarga dalam lima identifikasi:
1.      Keluarga merupakan tempat untuk bertumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan social, kasih dan rohani.
2.      Keluarga merupakan pusat pengembangan semua aktivitas
3.      Keluarga merupakan tempat yang aman untuk berteduh saat ada badai kehidupan.
4.      Keluarga merupakan tempat untuk mentransfer nilai-nilai, laboratorium hidup bagi setiap anggota keluarga dan saling belajar hal yang baik.
5.      Keluarga merupakan tempat meunculnya permasalahan dan penyelesaiannya.
Alkitab menyatakan bahwa keluarga terbentuk apabila seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, maka keduanya menjadi satu daging dan mereka dipersatukan Allah dan tidak boleh diceraikan oleh manusia (Mat. 19:5-6).
B.     Tipe keluarga
Ada beberapa tipe keluarga yakni keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain itu terdapat juga keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
C.    Peran Anggota keluarga
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
Anak-anak melaksanakan melaksanakan tugas, membahagiakan orang tua dan mengembangkan potensi diri.
D.    Fungsi Keluarga
Fungsi yang dijalankan keluarga adalah :
1.      Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
2.      Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.      Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
4.      Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.      Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
6.      Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
7.      Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
8.      Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
9.      Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

E.     Masalah-Masalah yang Dihadapi Keluarga
Tidak ada rumah tangga yang tidak memiliki masalah. Itulah rumus baku yang diyakini semua konsultan keluarga. Tapi yang membedakan yaitu bagaimana sikap masing-masing keluarga dalam menghadapi permasalahan tersebut.
Masalah yang timbul secara normal dalam kehidupan keluarga, yaitu dari pernikahan, menjadi orang tua, berpisah dengan anak-anak yang sudah menikah sampai Tuhan memanggil mereka. Masalah yang timbul dari luar keluarga, seperti tekanan masyarakat dan perubahan-perubahan social, politik, ekonomi dan budaya. Selain hal-hal yang disebutkan di atas, belum hadirnya seorang anak dalam keluarga sementara pernikahan telah berlangsung selama bertahun-tahun pun merupakan suatu permasalahan yang banyak ditemukan dalam suatu keluarga.


BAB III
KELUARGA YANG TIDAK MEMILKI ANAK

Pada bahasan sebelumnya kita telah membahas akan fungsi-fungsi keluarga. Dalam setiap fungsi seolah-olah yang menjadi pusat adalah anak. Lalu bagaimana dengan keluarga yang tidak memiliki anak, apakah suatu keluarga akan kehilangan fungsinya?
A.    Anak dan Keluarga
Kehadiran anak dalam sebuah perkawinan merupakan dambaan bagi suami-istri, karena anak mempunyai nilai tersendiri bagi keluarga. Adanya anak dalam suatu keluarga sudah merupakan salah satu kebutuhan bagi orang tua, baik sebagai kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologi. Konsep nilai anak yang dimiliki oleh setiap keluarga umumnya telah mendasar dan menjadi bagian dari hidup mereka. Menurut Hoffman (1973:26) bahwa nilai anak berkaitan dengan fungsi anak terhadap orang tua atau kebutuhan orang tua yang akan di penuhinya. Keberadaan anak dalam suatu keluarga berfungsi sebagai penyambung garis keturunan, penerus tradisi keluarga, curahan kasih sayang (hidup akan terasa berarti, keluarga menjadi lengkap dan tugas suami istri telah terpenuhi secara psikologis), hiburan dan jaminan hari tua.
Nilai anak dari segi psikologis yaitu anak dapat lebih mengikat tali perkawinan. Pasangan suami istri merasa lebih puas dalam perkawinan dengan melihat perkembangan emosi dan fisik anak. Kehadiran anak juga telah mendorong komunikasi antara suami istri karena mereka merasakan pengalaman bersama anak mereka. Kehadiran anak akan menghangatkan suasana sepi di rumah serta akan mengurangi ketegangan dan kelelahan setelah seharian bekerja (anak sebagai sumber kasih sayang). Anak dapat menimbulkan rasa aman dan hal ini biasanya dialami oleh orang tua yang memiliki anak laki-laki karena mereka merasa bahwa mereka sudah memiliki anak laki-laki yang nantinya akan menggantikannya kelak dalam melaksanakan kewajiban adat, di lingkungan kerabat maupun masyarakat. Selain itu anak juga dirasakan dapat menghibur orang tuanya memberikan dorongan untuk lebih semangat lagi bekerja karena sudah memiliki tanggungan.
Nilai anak dari segi sosial yaitu anak merupakan anak dapat meningkatkan status seseorang. Pada beberapa masyarakat, individu baru mempunyai hak suara setelah ia memiliki anak. Anak merupakan penerus keturunan. Untuk mereka yang menganut sistem patrilineal, seperti Cina, Korea, Taiwan, dan Suku Batak, adanya anak laki-laki sangat diharapkan karena anak laki-laki akan meneruskan garis keturunan yang diwarisi lewat nama keluarga. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki dianggap tidak memiliki garis keturunan, dan keluarga itu dianggap akan punah. Anak merupakan pewaris harta pusaka. Bagi masyarakat yang menganut sistem matrilineal, anak perempuan selain sebagai penerus keturunan, juga bertindak sebagai pewaris dan penjaga harta pusaka yang diwarisinya. Sedangkan anak laki-laki hanya mempunyai hak guna atau hak pakai. Sebaliknya, pada masyarakat yang menganut sistem patrilineal, anak laki-lakilah yang mewariskan harta pusaka.
Inilah mengapa kehadiran anak sangat diidam-idamkan dalam sebuah keluarga. Memiliki anak akan menimbulkan masalah baru bagi keluarga begitu juga dengan keluarga yang tidak memiliki anak. Perasaan rendah diri, rasa bersalah dan tertekan bisa dialami oleh keluarga yang tidak memiliki anak dalam usaha mereka untuk memiliki anak atau juga dalam menerima kenyataan tidak mendapatkan anak biologis.

B.     Ketika Anak Tidak Juga Hadir Dalam Keluarga
Berat memang, menerima kenyataan bahwa pernikahan yang telah dijalani selama bertahun-tahun belum juga dapat membuahkan keturunan. Kerinduan akan hadirnya seorang bayi mungil pun akhirnya menjadi siksaan yang banyak menyelimuti pasangan suami istri. Dan tidak dapat dipungkiri, omongan tetangga, teman, dan saudara pun akhirnya senantiasa terdengar negatif.
Tekanan demi tekanan pun akan dirasakan begitu menyakitkan baik bagi isteri maupun bagi suami. Keluarga yang tidak memiliki anak sering di “cap” sebagai keluarga yang mandul. Bagi sebagian orang kemandulan ini dikarenakan dosa masa lalu dari isteri dan suami. Hal ini tentu saja akan menimbulkan tekanan bagi suami dan isteri sehingga mulai ada perasaan minder, rasa bersalah, bisa menjadi alasan untuk saling menyalahkan dan akhirnya alasan untuk bercerai sekalipun keluarga Kristen tidak diijinkan untuk bercerai, karena perceraian bukanlah jalan keluar yang diberikan Tuhan kepada keluarga yang memiliki permasalahan misalnya tidak memiliki anak. selain itu, keluarga yang tidak memiliki anak akan merasa gagal dalam kehidupan keluarga mereka. Hal ini akan menimbulkan rasa tidak bersyukur dengan apa yang telah Tuhan anugerahkan bagi keluarga.
Hidup dalam ikatan pernikahan selama bertahun-tahun tanpa kehadiran seorangpun buah hati, buah cinta yang menjadi kebanggan memang tidaklah mudah. Namun demikian, berputus asa dan rendah diri bukanlah satu jalan keluar yang terbaik yang harus ditempuh. Bersedih, mungkin itu satu hal yang wajar. Namun berputus asa, itu bukanlah jalan keluar. Hadapi kenyataan tersebut dengan lapang dada, karena biar bagaimanapun itulah kenyataan yang memang harus dihadapi.
Umunya, pasangan suami istri akan memiliki anak dalam kurun waktu satu tahun pernikahan. Hal ini terjadi pada 85% pasangan suami istri. Untuk itu, ketika belum juga memiliki seorang anak sementara usia pernikahan masih berada di bawah usia satu tahun, hendaknya tidak terlalu cemas. Tetaplah berpikir positif dan logis. Jangan terburu-buru memvonis bahwa sang istri atau suami tidak subur atau mandul.
Jangan Saling Menyalahkan. Untuk memiliki seorang anak bukanlah menjadi harapan seorang suami atau istri saja, melainkan harapan kedua belah pihak. Karena salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan (anak). Untuk itu, manakala sang anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya tidak juga datang, hendaknya tidak saling menyalahkan antara suami dan istri.
Dalam hal ini, istri adalah pihak yang paling banyak disalahkan. Ketika mereka tidak juga mendapatkan seorang anak, suami seketika memvonis bahwa istrinya tidak subur atau mandul. Padahal, belum tentu yang mandul tersebut adalah sang istri, boleh jadi justru suamilah yang tidak subur atau mandul. Untuk itu, hendaknya dalam hal ini baik suami maupun istri tidak saling menyalahkan satu sama lain sebelum semuanya jelas, karena baik suami maupun istri masih memiliki kemungkinan bermasalah (mandul) yang sama, 50%-50%.
Konsultasikan masalah tersebut kepada dokter ahli, agar dapat diketahui permasalahannya dan kemudian sama-sama mencari jalan keluar yang terbaik.
Cek Kesuburan. Dalam pemeriksaan kesuburan, biasanya hasil untuk suami lebih cepat ketimbang hasil pemeriksaan istri. Pemeriksaan bagi suami adalah berkaitan mengenai jumlah sperma yang dihasilkan, bagaimana gerakan sperma serta kondisi sperma. Sedangkan pemeriksaan kesuburan untuk istri biasanya meliputi masalah apakah ada sel telur yang dihasilkan dan apakah saluran untuk sperma menuju sel telur terbuka. Bagi wanita yang kondisi haidnya lancar, kemungkinan besar ia memiliki sel telur yang normal.
Jika hasil pemeriksaan kesuburan menunjukkan bahwa suami dan isteri normal, bukan berarti keluarga ini juga akan memperoleh keturunan dengan segera. Banyak hal lain yang dapat menjadi faktor pengaruh dalam masalah ini.
C.    Kajian Sosiologi
Dalam kebudayaan Barat, anak tidak lagi menjadi syarat terciptanya keutuhan keluarga. Anak tidak lagi merupakan alat perekat bagi kesatuan keluarga. Kehadiran seorang anak ditengah-tengah keluarga direncanakan bila persiapan mental dan keadaan materi suami isteri sudah memungkinkan penambahan anggota keluarga baru. Namun dalam kebudayaan Timur, status anak dipandang sebagai pemberian yang akan membawa rejekinya sendiri, pandangan banyak anak banyak rejeki.
Masih terdapat berbagai pendapat pribadi mengenai anak dan perlu atau tidaknya seorang anak dalam suatu keluarga. Seringkali sepasang suami isteri mengambil keputusan untuk berpisah dengan tujuan mengambil pasangan hidup lain. Keputusan berpisah yang didasarkan pendapat bahwa pernikahan yang tidak dikaruniai anak tidak dapat dipertahankan lebih lama. Ada pula pangan suami isteri yang mencari kepuasan seksui di luar pernikahan dengan alasan “hampanya” pernikahan mereka tanpa anak. Lain pendapat menganjurkan “perkawinan percobaan”, yang baru akan disahkan dalam pernikahan bila telah berhasil memastikan kemungkinan adanya keturunan. Dari pendapat-pendapat ini dapat disimpulkan bahwa adanya anak di dalam keluarga merupakan factor yang penting. Tetapi mungkin pula “tidak adanya anak” hanya merupakan factor yang dikambinghitamkan sebagai alasan untuk membenarkan kekurangan dirinya dan sebab perceraian.
Tidak memiliki anak sering juga mendapat cemooh dari orang-orang disekitar, baik tetangga maupun rekan kerja. Tapi yang penting disini yaitu bagaimana kita menyikapi akan hal ini. Hendaknya tidak menjadikan cemoohan itu sebagai jurang penghancur harapan dan kebahagiaan dalam keluarga.
Tidak memiliki anak juga bukan berarti fungsi sosial dalam keluarga tidak berlaku. Karena anak bukanlah satu-satunya tujuan pernikahan.
D.    Kajian Teologi
Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjelaskan anak dari perpektif Allah. Anak adalah hadiah dari Allah (Kejadian 4:1; Kejadian 33:5). Anak adalah warisan dari Tuhan (Mazmur 127:3-5). Anak adalah berkat dari Tuhan (Lukas 1:42). Anak adalah mahkota orang-orang tua (Amsal 17:6). Allah memberkati perempuan-perempuan mandul dengan anak-anak (Mazmur 113:9; Kejadian 21:1-3; 25:21-22; 30:1-2; 1 Samuel 1:6-8; Lukas 1:7, 24-25). Allah membentuk anak-anak dalam kandungan (Mazmur 139:13-16). Allah mengetahui anak-anak sebelum mereka dilahirkan (Yeremia 1:5; Galatia 1:15).
Sebuah keluarga terdiri atas orang yang mempedulikan Allah dan memperhatikan satu sama lain. Hubungan keluarga adalah suatu bagian penting dalam rumah tangga. Salah satu sarana Allah bagi kebahagiaan umat manusia adalah sebuah rumah tangga atau keluarga. Suami istri bersama-sama mengambil bagian dalam kesukaan dan kesedihan mereka, pekerjaan dan rekreasi, persoalan-persoalan dan kesuksesan. Rumah tangga merupakan sekolah bagi orang tua maupun bagi anak-anak, di mana mereka dapat belajar kesabaran pengertian dan menenggang orang lain. Keluarga adalah tempat perlindungan dari ketengan dan persoalan yang dihadapi manusia sehari-hari dalam pekerjaannya. Kasih, kedamaian dan kehadiran Allah dalam rumah tangga Kristen menyegarkan dan menguatkan baik suami maupun istri untuk memikul tanggung jawab mereka di luar rumah.
Salah satu tugas pokok dalam rumah tangga adalah membuat persiapan untuk kelahiran dan perkembangan anak-anak. Tanggung jawab yang dipikul bersama sebagai orang tua menarik suami istri ke dalam hubungan yang lebih akrab sementara mereka setiap hari mencari bimbingan Tuhan bagi kehidupan mereka. Anak-anak di dalam rumah tangga menyempurnakan kesukaan dan kepuasan pernikahan.
Ini tidak berarti bahwa Allah menahan berkat-Nya dari suami istri yang tidak dikaruniai anak. Alkitab tidak memberikan hak kepada seorang suami untuk meninggalkan istrinya, mengusirnya, atau menikah lagi dengan orang lain karena istrinya mandul. Demikian pula Alkitab tidak member hak kepada istri untuk meninggalkan suaminya, yang dipersalahkannya karena kemandulannya. Cacat jasmani di dalam suami atau istri yang mencegah lahirnya anak-anak, tidak boleh dijadikan alas an untuk bercerai.
Alkitab memberikan contoh-contoh mengenai suami istri yang tidak dikaruniai anak, dan bagaimana Allah menjawab doa mereka. Imam Zakharia berada di Bait Allah ketika malaikat Tuhan Nampak kepadanya untuk memberitahukan bahwa doanya telah didengar dan Elisabet akan mempunyai anak laki-laki (Lukas 1:13). Hana berdoa memohon seorang anak laki-laki dan Allah memberikan Samuel kepadanya, yang menjadi seorang pemimpin yang perkasa di Israel (I Samuel 1:11-13). Banyak suami istri yang tidak mempunyai anak telah mengangkat anak. Allah memberkati mereka ketika mereka menyediakan sebuah rumah untuk anak-anak kecil ni. Suatu kasih yang dalam dan tahan lama dapat dikembangkan antara anak-anak dan orang tua yang mengangkat mereka dan dapat mendatangkan sukacita besar kepada satu sama lain.
E.     Tujuan pernikahan
Kekecewaan suami dan istri yang tidak memiliki anak menimbulkan rasa tidak bersyukur dan bukan tidak mungkin menghakimi Tuhan tidak adil  dalam kehidupan pernikahan mereka. Keluarga seperti ini sangat memerlukan bimbingan dan pemahaman kembali akan apa sebenarnya tujuan dari pernikahan Kristen. Apakah anak merupakan tujuan satu-satunya dari pernikahan?
Pernikahan dan keluarga yang bahagia tidaklah tergantung pada adanya anak, sebab anak bukanlah penentu dari keluarga yang bahagia. Ini merupakan prinsip yang harus kita pegang dan taati dengan sungguh-sungguh. Sewaktu kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan, janji itu bukanlah untuk mendapatkan anak, melainkan untuk menghidupkan persekutuan yang mungkin diraih dalam saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan yang lain. Dalam pernikahan, kita dapat mengalami, membagi dan menikmati sukacita, cinta kasih dan persekutuan berdasarkan pemberian Tuhan kepada kita masing-masing.
Karena itu tujuan pernikahan bukanlah hanya untuk mendapatkan anak, tetapi melalui pernikahan, sepasang suami-istri mungkin dikaruniai anak oleh Tuhan. Pernikahan merupakan satu-satunya jalur yang sah untuk mendapatkan anak. Dengan demikian hidup bahagia tidak diletakkan atas dasar ada atau tidaknya anak.
Alkitab selalu memperlihatkan bahwa mempunyai anak adalah hal yang baik. Alkitab “mengharapkan” suami dan isteri memiliki anak. Ketidakmampuan untuk memperoleh anak selalu diperlihatkan dalam Alkitab sebagai hal yang buruk. Tidak ada seorangpun dalam Alkitab yang menyatakan keinginan untuk tidak memiliki anak.
Untuk mengetahui tujuan pernikahan yang benar, kita harus melihat dari perspektif Allah yang berinisiatif merancang dan membentuk institusi pernikahan. Hal ini bisa kita ketahui dari dua pasal pertama dalam Alkitab. Apakah tujuan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan?
Tujuan utama adalah merefleksikan kejamakan dan ketunggalan dalam diri Allah. Kejadian 1:26 menyatakan, “Baiklah Kita (jamak) menjadikan (tunggal) manusia...”. Bagaimana kita menjelaskan bentuk jamak dan tunggal dalam ayat ini? Untuk memahami hal ini kita harus memperhatikan konteks ayat 26-27 secara lebih seksama. Perhatikan dua ayat berikut ini:
Kej 1:27 Maka Allah menciptakan manusia (tunggal) itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (tunggal); laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (jamak).
Kej 5:1b-2a Pada waktu manusia (tunggal) itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia (tunggal) menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (jamak).
Dari dua ayat di atas terlihat bahwa manusia – yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah – diciptakan sebagai kesatuan dalam kejamakan. Tidak heran di Kejadian 2:18 Allah melihat kesendirian manusia sebagai sesuatu yang tidak baik. Selanjutnya, setelah Allah menciptakan kejamakan manusia (laki-laki dan perempuan), Ia menghendaki supaya mereka berada dalam kesatuan yang utuh (Kej 2:23-24 “mereka akan menjadi satu tubuh”). Apa yang tergambar dalam penciptaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah turut merefleksikan keberadaan Allah yang ‘jamak tapi tunggal’.
Tujuan selanjutnya dari pernikahan adalah melayani Allah. Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Ia memberikan tugas khusus yang harus dikerjakan mereka berdua, yaitu supaya mereka berkuasa atas ciptaan lain (Kej 1:26). Tugas ini diulangi lagi di Kejadian 1:28, tetapi kali ini lebih eksplisit. Allah memberikan berkat dan perintah di ayat 28, yaitu memiliki keturunan → memenuhi bumi → menaklukkan bumi. Dari sini kita bisa melihat bahwa perintah untuk berkembang biak dan memenuhi bumi hanyalah sarana untuk melakukan tujuan akhir yang ditetapkan Allah, yaitu menguasai bumi. Di sinilah manusia memainkan peranan penting sebagai gambar Allah yang mewakili Allah menguasai bumi. Penjelasan di atas juga sesuai dengan Kejadian 2:18. Dalam ayat ini Allah menilai kesendirian Adam sebagai sesuatu yang tidak baik. Adam membutuhkan seorang penolong. Pertanyaannya, penolong dalam hal apa? Mengapa Adam perlu ditolong? Berdasarkan konteks yang ada, pertolongan ini diperlukan Adam untuk menjalankan perintah Allah di Kejadian 1:28 atau Kejadian 2:15-17. Manapun yang benar di antara dua kemungkinan ini, kita tetap bisa melihat bahwa Hawa diciptakan bagi Adam sebagai mitra untuk melayani Allah atau melaksanakan perintah-Nya.
Dua tujuan pernikahan yang sudah dijelaskan di atas dapat dirangkum dalam satu kalimat “kita menikah untuk memuliakan Allah”. Allah yang merancang dan membangun pernikahan; Dia juga yang berhak menentukan tujuan pernikahan hanya bagi diri-Nya. Kita menikah semata-mata bukan untuk kebahagiaan kita, keluarga kita, pasangan kita maupun anak-anak kita. Kita menikah untuk memuliakan Allah.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga yang tidak memiliki anak tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang gagal. Karena tujuan dari pernikahan bukanlah semata-mata hanya untuk mendapatkan anak, melainkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Bagaimana Allah dimuliakan dalam keluarga tersebut lewat kehidupan suami dan isteri yang senantiasa mensyukuri akan berkat-berkat Tuhan sekalipun mereka tidak memiliki anak biologis. Sebuah keluarga bisa mengadopsi anak yatim piatu atau juga anak dari saudara keluarga tersebut. Dan ini merupakan cara Tuhan agar bisa berbagi kasih sayang dengan sesama yang membutuhkan, dalam hal ini anak yatim yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua.
Tidak memiliki anak bukan berarti keluarga itu kehilangan fungsinya. Karena anak bukanlah tujuan satu-satunya pernikahan. Belum dikaruniai anak atau tidak dikaruniai anak biologis, menyadarkan manusia bahwa kehidupan ini ada yang mengatur. Manusia tidak bisa hidup sesuai dengan kehendaknya sendiri. Akan ada keinginan-keinginan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Namun bukan berarti dalam hal keinginan untuk memiliki anak tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allh punya cara-Nya sendiri dalam melaksanakan kehendak-Nya. Ia memiliki rancangan-Nya sendiri bagi kehidupan setiap keluarga.

B.     Saran
Contohnya dalam Alkitab misalnya Abraham yang dijanjikan keturunan oleh Allah sendiri namun butuh waktu yang lama untuk mendapatkannya, setelah mendapatkan anak, masih juga Allah menguji Abraham untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban bagi Allah. Keluarga Hana, Elizabeth dan Zakharia dan masih banyak lagi contoh-contoh dalam Alkitab yang bisa menjadi teladan dan keluarga-keluarga yang tidak memiliki anak namun tidak kehilangan pengaharapan mereka kepada Tuhan.
Bagi kita yang dalam perencanaan menuju pada pernikahan, kiranya benar-benar memahami apa arti dan tujuan dari pernikahan Kristen. Sehingga berbagai kemungkinan yang dapat kita bayangkan kedepan, bukan lagi suatu alasan untuk kita tidak bersyukur kepada Tuhan. Ataupun saling menyalahkan pasangan kita karena masalah seperti ini.
Terus berpengharapan didalam Tuhan, karena Tuhan tidak akan mengecewakan kita ketika kita benar-benar menyakini akan rancangan-Nya yang mendatangkan damai sejahtera.


DAFTAR PUSTAKA

Alkitab Terjemahan Baru. 2000. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Kristianto, Paulus. Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. 2006. Yogyakarta: ANDI.
Soelaeman, M.I. Pendidikan Dalam Keluarga. 1994. Bandung: CV ALFABETA.
Gunarsa, Singgih. Psikologi Untuk Keluarga. 2009. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih. Asas-asas Psikologi. 2009. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan. 2007. Jakarta: Rineka Cipta.
Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan. 2003. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Lahaye, Tim. Kebahagiaan Pernikahan Kristen. 2002. Jakarta: Gunung Mulia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar